Laporan Praktikum Sistem Pertanian Terpadu
By : Unknown
Disusun oleh : Victor Sumadi H 0810118
Universitas Sebelas Maret Surakarta
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertanian terpadu pada hakekatnya adalah memanfaatkan seluruh potensi energi sehingga dapat dipanen secara seimbang. Pertanian melibatkan makhluk hidup dalam satu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Dengan pertanian terpadu ada pengikatan bahan organik di dalam tanah dan penyerapan karbon lebih rendah dibanding pertanian konvensional yang pakai pupuk nitrogen dan sebagainya. Agar proses pemanfaatan tersebut dapat terjadi secara efektif dan efisien, maka sebaiknya produksi pertanian terpadu berada dalam suatu kawasan. Pada kawasan tersebut sebaiknya terdapat sektor produksi tanaman, peternakan maupun perikanan. Keberadaan sektor-sektor ini akan mengakibatkan kawasan tersebut memiliki ekosistem yang lengkap dan seluruh komponen produksi tidak akan menjadi limbah karena pasti akan dimanfaatkan oleh komponen lainnya. Disamping akan terjadi peningkatan hasil produksi dan penekanan biaya produksi sehingga efektivitas dan efisiensi produksi akan tercapai.
Selain hemat energi, keunggulan lain dari pertanian terpadu adalah petani akan memiiki beragam sumber penghasilan. Sistem Pertanian terpadu memperhatikan diversifikasi tanaman dan polikultur. Seorang petani bisa menanam padi dan bisa juga beternak kambing atau ayam dan menanam sayuran. Kotoran yang dihasilkan oleh ternak dapat digunakan sebagai pupuk sehingga petani tidak perlu membeli pupuk lagi. Jika panen gagal, petani masih bisa mengandalkan daging atau telur ayam, atau bahkan menjual kambing untuk mendapatkan penghasilan.
Konsep sistem pertanian terpadu adalah mengkombinasikan berbagai macam spesies tanaman dan hewan dan penerapan beraneka ragam teknik untuk menciptakan kondisi yang cocok untuk melindungi lingkungan juga membantu petani menjaga produktivitas lahan mereka dan meningkatkan pendapatan mereka dengan adanya diversifikasi usaha tani. Sistem pertanian terpadu yaitu meliputi pengelolaan tanaman, hama, tanah, nutrisi, air, peternakan serta pemasaran terpadu yang diharapkan akan jadi solusi alternatif bagi peningkatan produktivitas lahan serta mampu meningkatkan pendapatan petani.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan yang dapat diidentifikasi terkait dalam penerapan system pertanian terpadu adalah :
1. Bagaimana pengaruh perlakuan penyiraman terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang dan jumlah daun pada tanaman kangkung?
2. Bagaimana keterkaitan antar subsektor pertanian di lokasi praktikum?
3. Bagaimana analisis usaha tani di lokasi praktikum?
C. Tujuan Praktikum
Berdasarkan Latar Belakang dan Rumusan Masalah Maksud dan tujuan dari pratikum Sistem Pertanian Terpadu ini adalah :
- Mengetahui pengaruh perlakuan penyiraman terhadap tinggi tanaman, diameter batang, jumlah cabang, dan jumlah daun pada tanaman kangkung.
- Mengetahui keterkaitan antar subsektor pertanian yang berada di lokasi praktikum.
- Melakukan analisis usahatani di lokasi praktikum.
II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Budidaya Kangkung
Kangkung (Ipomoea sp.) dapat ditanam di dataran rendah dan dataran tinggi. Kangkung merupakan jenis tanaman sayuran daun, termasuk kedalam famili Convolvulaceae. Daun kangkung panjang, berwarna hijau keputih-putihan merupakan sumber vitamin A. Kangkung terdiri dan dua varietas, yakni kangkung darat yang disebut kangkung cina dan kangkung air yang tumbuh secara alami di sawah, rawa, atau parit. Perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air terletak pada warna bunga. Kangkung air berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat bunga putih bersih. Perbedaan lainnya adalah kangkung air berbatang dan berdaun lebih besar daripada kangkung darat. Warna batangnya juga berbeda, kangkung air berbatang hijau sedangkan kangkung darat putih kehijau-hijauan. Kangkung darat lebih banyak bijinya daripada kangkung air itu sebabnya kangkung darat diperbanyak lewat biji, sedangkan kangkung air dengan cara stek pucuk batang (Anonima, 2001).
Tanaman kangkung membutuhkan lahan yang terbuka atau mendapat sinar matahari yang cukup. Di tempat yang terlindung (ternaungi) tanaman kangkung akan tumbuh memanjang (tinggi) tetapi kurus. Kangkung sangat kuat menghadapi panas terik dan kemarau yang panjang. Apabila ditanam di tempat yang agak terlindung, maka kualitas daun bagus dan lemas sehingga disukai konsumen. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Kangkung darat dapat tumbuh pada daerah yang beriklim panas dan beriklim dingin (Vasal, 2010).
Dalam pemilihan bibit harus disesuaikan dengan lahan (air atau darat). Apabila kangkung darat ditanam di lahan untuk kangkung air produksinya kurang baik, warna daun menguning, bentuk kecil dan cepat membusuk. Bibit kangkung sebaiknya berasal dari kangkung muda, berukuran 20-30 cm. Pemilihan bibit harus memperhatikan hal-hal seperti berikut, batang besar, tua, daun besar dan bagus. Penanamannya dengan cara stek batang, kemudian ditancapkan di tanah. Sedangkan biji untuk bibit harus diambil dari tanaman tua dan dipilih yang kering serta berkualitas baik (Sarja, 1979).
B. Integrated Crop Management
Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) adalah suatu pendekatan sinergis dalam penerapan komponen teknologi yang saling menunjang antara satu dengan yang lainnya, dengan mempertimbangkan karakteristik lingkungan tanaman, kondisi sosial, ekonomi dan budaya petani setempat secara partisipatif dan spesifik lokasi. Tujuan dari penerapan PTT adalah untuk meningkatkan pendapatan petani melalui aplikasi teknologi yang cocok sesuai kondisi setempat, guna meningkatkan hasil dan mutu panen, sekaligus untuk menjaga kelestarian lingkungannya. Sistem pertanian terpadu yaitu meliputi pengelolaan tanaman, hama, tanah, nutrisi, air, peternakan serta pemasaran terpadu yang diharapkan akan jadi solusi alternatif bagi peningkatan produktivitas lahan serta mampu meningkatkan pendapatan petani
(Makarim, 2005).
(Makarim, 2005).
PTT bersifat dinamis karena selalu mengikuti perkembangan teknologi dan penerapannya disesuaikan dengan keinginan dan pilihan petani. Oleh karena itu, PTT selalu bercirikan spesifik lokasi. Teknologi yang dikembangkan melalui pendekatan PTT senantiasa mempertimbangkan lingkungan fisik, biofisik, iklim, dan kondisi sosial-ekonomi petani setempat (Ernawati, 1999).
PTT dirancang berdasarkan pengalaman implementasi berbagai sistem intensifikasi yang pernah dikembangkan di Indonesia, hasil penelitian yang menunjukkan sebagian besar lahan telah mengalami kemunduran kesuburan, dan adopsi filosofi Sistem Intensifikasi Padi (System of Rice Intensification) yang semula dikembangkan di Madagaskar. Tujuan penerapan PTT adalah untuk meningkatkan produktivitas dan pendapatan petani serta melestarikan lingkungan produksi melalui pengelolaan lahan. Prinsip utama penerapan PTT adalah partisipatif (petani berperan aktif memilih dan menguji teknologi yang sesuai melalui proses pembelajaran di Laboratorium Lapang), spesifik lokasi (memperhatikan kesesuaian teknologi dengan lingkungan fisik, sosial budaya dan ekonomi petani), terpadu (pengelolaan sumber daya tanaman, tanah dan air secara terpadu), sinergis (pemanfaatan teknologi terbaik dan memperhatikan keterkaitan antar komponen teknologi), dan dinamis (penerapan teknologi sesuai perkembangan IPTEK) (Harjadi, 2002).
C. Integrated Pest Management
Organisme penganggu tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Perkembangan hama dan penyakit sangat dipengaruhi oleh dinamika faktor iklim, sehingga tidak jarang kalau pada musim hujan petani banyak disibukkan oleh masalah penyakit tanaman seperti penyakit kresek dan blas pada padi, sedangkan pada musim kemarau banyak masalah hama seperti penggerek batang padi, hama belalang kembara (Maulidia, 2010).
Setiap tahun terus terjadi ancaman hama. Perkembangan hama dipengaruhi oleh faktor-faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung, terjadinya anomali musim, yakni masih adanya hujan di musim kemarau juga dapat menstimulasi serangan OPT. Pemantauan terhadap dinamika serangan OPT yang dikaitkan dengan perubahan iklim merupakan upaya yang perlu direalisasikan sebagai upaya antisipasi, untuk masa yang akan datang, sistem peringatan dini (early warning system) perlu dibangun (Anonimb, 2009).
Untuk mengurangi dampak buruk hama terhadap produksi dan produktivitas tanaman, diperlukan upaya antisipasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Strategi antisipasi dan teknologi adaptasi terhadap perubahan iklim dan serangan OPT merupakan salah satu aspek yang harus menjadi rencana strategi Departemen Pertanian dalam rangka menyikapi perubahan iklim. Hal ini bertujuan untuk mengembangkan pertanian yang tanggap terhadap variabilitas iklim sekarang dan akan datang. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu disusun program kerja yang sistematis dan terintegrasi untuk melaksanakan agenda adaptasi (Prabowo, 2008).
D. Integrated Soil Management
Pengelolaan tanah merupakan faktor utama berhasilnya produksi tanaman. Pengelolaan tanah perlu diketahui kondisi struktur, tekstur, dan keasaman tanahnya yang akan ditanami. Tekstur tanah yang berat dan lahan yang kurang disiapkan dengan baik mempengaruhi perkecambahan benih tanaman. Tingkat keasaman tanah juga perlu diketahui karena sangat berpengaruh pada tersedianya hara tanaman (Anonimc, 2009).
Pengelolaan tanah merupakan hal yang diperlukan untuk menciptakan keadaan tanah yang baik bagi pertumbuhan tanaman. Pengelolaan tanah bertujuan untuk menyediakan lahan agar siap bagi kehidupan tanaman dengan meningkatkan kondisi fisik tanah. Tanah merupakan faktor lingkungan yang mempunyai hubungan timbal balik dengan tanaman yang tumbuh padanya. Faktor lingkungan tanah meliputi : Faktor fisik (air, udara, struktur tanah serta suhu), Faktor kimiawi (kemampuan tanah dalam menyediakan nutrisi), Faktor biologis (makro/mikro flora dan makro/mikro fauna) (Nursyamsi, 2002).
Salah satu persiapan yang dapat dirancang dan diusahakan dengan memperhitungkan kualitas dan kuantitas cadangan makanan, yaitu beberapa media tumbuh dan perkembangan bibit suatu tanaman. Media yang biasa digunakan untuk pembibitan adalah bagian dari tanah, pupuk kandang dan pasir, dalam bentuk campuran diantara ke 3 bagian tersebut. Cacing dilaporkan sebagai aktivator tanah yang mampu melakukan dekomposisi organisme yang ada disekitarnya, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai media tanam (Ernawati, 1999).
E. Integrated Nutrient Management
Tanaman memerlukan 16 unsur hara esensial bagi pertumbuhan tanaman. Tiga diantaranya C, H, dan O disuplai dari air dan udara (CO2), sementara 13 unsur lainnya dikelompokkan atas atas dua bagian yaitu enam unsur sebagai unsur hara makro dan tujuh unsur sebagai unsur hara mikro. Unsur hara makro adalah unsur hara hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah besar sedangkan unsur hara mikro adalah unsur yang dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah kecil. Apabila unsur mikro yang diberikan ke dalam tanah melebihi kebutuhan tanaman akan mengakibatkan keracunan tanaman, sebaliknya kalau kekurangan akan menimbulkan kekahatan (Anonimd, 2009).
Sebagian hara yang dibutuhkan oleh tanaman padi berasal dari tanah. Namun, suplai hara ini biasanya tidak mencukupi kebutuhan hara tanaman untuk memperoleh hasil yang tinggi. Karena itu, penggunaan pupuk sangat penting artinya untuk mengisi kekurangan antara kebutuhan hara tanaman dan suplai hara dari tanah serta masukan-masukan bahan organik yang tersedia (Warsoko, 2007).
Pengelolaan hara spesifik lokasi (PHSL) merupakan suatu pendekatan untuk menyediakan hara bagi tanaman padi saat dan bila dibutuhkan.Aplikasi dan pengelolaan hara secara dinamis disesuaikan dengan kebutuhan tanaman menurut lokasi dan musim. Pendekatan PHSL bertujuan untuk meningkatkan keuntungan petani melalui (i) peningkatan hasil padi per unit pupuk yang digunakan; (ii) hasil padi yang lebih tinggi; dan (iii) berkurangnya kerusakan oleh penyakit dan hama. Ciri-ciri PHSL adalah dengan penggunaan sumber-sumber hara dari tanah secara optimal, seperti residu tanaman dan pupuk kandang dan aplikasi pupuk nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K) disesuaikan dengan kebutuhan spesifik lokasi dan musim dari tanaman (Patola, 2008).
F. Integrated Water Management
Air sangat penting sehingga kehidupan tak akan berjalan tanpa adanya air. Ketersediaan air di bumi sangat diperngaruhi oleh siklus hidrologi. Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang tidak pernah berhenti dari atmosfer ke bumi dan kembali ke atmosfer melalui kondensasi, presipitasi, evaporasi dan transpirasi. Pemanasan air samudera oleh sinar matahari merupakan kunci proses siklus hidrologi dapat berjalan secara kontinyu (Budiastuti, 2008).
Pada umumnya, lebih 80% dari air yang ada dicurahkan khusus untuk pertanian. Tetapi karena biasanya air disalurkan dengan gratis atau dengan tarif yang banyak disubsidi, maka kecil sekali dorongan niat untuk menggunakan air secara efisien dan retribusinya, jika ada, tidak akan mencukupi untuk pemeliharaan yang layak. Maka hasilnya ialah penggunaan yang sangat tidak efisien, efisiensinya kira-kira hanya di bawah 40% untuk seluruh dunia dan kemerosotan mutu yang semakin melaju pada sistem yang semakin besar. Sesungguhnya efisiensi dapat ditingkatkan dengan baik, yakni dengan perbaikan cara pengoperasian dan pemeliharaan sistemnya, perbaikan saluran, pendataran lahan supaya pembagian air dapat merata, penyesuaian antara banyaknya pelepasan air dari tandon dan keperluan senyatanya di daerah hilir dan pengelolaan yang lebih efektif apabila air tersebut sudah sampai di lahan pertanian atau dengan menggunakan teknik yang lebih efisien seperti irigasi tetesan (Sutanto, 2006).
Upaya pengelolaan air yang paling mudah, cepat dan praktis adalah dengan memulai dari diri sendiri untuk mengefisienkan penggunaan air dan adanya kerjasama berbagai aspek kehidupan untuk bersama-sama mengatasi masalah rendahnya kuantitas dan kualitas air saat ini. Adanya masalah tersebut, dilakukan pengelolaan air terpadu yang melibatkan semua aspek kehidupan manusia, maka diharapkan masing-masing aspek tersebut mampu berjalan sebagaimana mestinya tanpa harus merusak lingkungan air. Sehingga manusia mampu bersahabat dekat dengan air dan saling menguntungkan (Anonime, 2009).
G. Integrated Livestock Management
Dalam agribisnis, limbah peternakan merupakan bahan andalan pemenuhan kebutuhan pupuk. Namun, karena pengelolaannya yang belum memadai maka sebagian besar limbah peternakan justru masih menjadi penyebab utama pencemaran lingkungan. Pengelolaan limbah peternakan terpadu merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan produktivitas agribisnis disertai meningkatnya daya dukung lingkungan. Keberhasilan usaha pertanian tanaman, sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pupuk (Kuntoro, 1995).
Sebagian besar petani masih menggunakan pupuk buatan, padahal selain ketersediaannya terus berkurang, penggunaan yang tidak bijaksana juga berdampak terhadap keseimbangan ekologis sehingga daya dukung lingkungan terus menurun dan produktivitas usaha pertanian rendah. Salah satu alternatif penanggulangan adalah meningkatkan produksi pupuk organik melalui pengelolaan dan pemanfaatan limbah peternakan secara optimal. Pengolahan limbah peternakan sebagai bahan baku pupuk harus dilakukan sesuai dengan kaidah alamiah, yaitu melalui proses biokonversi. Pengelolaan limbah peternakan secara terpadu sangat potensial mendukung program Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan yang sedang dijalankan oleh Pemerintah saat ini (Dirjen Peternakan, 1997).
Sebelum program intensifikasi pertanian menjadi program nasional, pemeliharaan hewan ternak secara tradisional atau dengan digembala memang sangat menunjang konsep pengendalian hama pertanian secara terpadu. Contohnya itik umumnya mencari makan di permukaan sawah dan sekitar batang/rumpun pada batang padi. Namun sejak penggunaan obat-obatan pembasmi hama pertanian makin intensif dan adakalanya dosisnya berlebihan, kasus keracunan hewan ternak sering menimbulkan konflik sosial. Pemeliharaan hewan ternak secara tradisional makin mengandung resiko besar (Dirdjopranoto, 1991).
H. Integrated Market Link Management
Pengertian Pemasaran Terpadu adalah kegiatan antara dua lembaga atau lebih melalui suatu keterikatan tertentu yang saling menguntungkan dalam memasarkan secara bersama hasil produksi anggota dan masyarakat untuk produk yang seragam, efisien dan berskala ekonomi besar. Pada saat ini banyak usaha pemasaran yang statis dan tidak berkembang kegiatannya. Sementara mereka mempunyai potensi komoditi unggulan untuk dikembangkan. Hal ini disebabkan oleh kurangnya akses ke sumber informasi atau ketiadaan komunikasi dengan pihak-pihak yang berkepentingan, serta kurangnya akses ke pasar. Untuk itu adanya sistem informasi usaha dan jaringan kerjasama antar lembaga pemasaran (Anonimf, 2010).
Iklan dan promosi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari sistem ekonomi dan sosial masyarakat modern. Dewasa ini, iklan sudah berkembang menjadi sistem komunikasi yang sangat penting tidak saja bagi produsen barang dan jasa tapi juga bagi konsumen. Kemampuan iklan dan metode promosi lainnya dalam menyampaikan pesan kepada konsumen menjadikan kedua bidang tersebut memegang peran sangat penting bagi keberhasilan perusahaan. Berbagai bentuk usaha, mulai dari usaha eceran hingga perusahaan multi nasional, mengandalkan iklan dan promosi untuk membantu mereka memasarkan barang dan jasa (Trubus, 1992).
Pengelola pemasaran hingga kini masih ada yang beranggapan bahwa kegiatan promosi yang paling efektif adalah beriklan melalui media massa. Anggapan ini menyebabkan fungsi promosi suatu perusahaan, selama beberapa dekade terakhir, umumnya didominasi oleh iklan media massa. Perusahaan bergantung pada biro iklan dalam memberikan bimbingan dan saran kepada manajemen mengenai hampir segala hal yang terkait dengan komunikasi pemasaran. Bentuk-bentuk komunikasi pemasaran lain, selain beriklan di media massa, seperti promosi penjualan atau pemasaran langsung masih dianggap sebagai pekerjaan tambahan dan lebih sering digunakan pada kasus-kasus tertentu saja. Konsultan humas hanya digunakan untuk mengelola kegiatan publisitas, mengelola citra serta menangani urusan dengan publik. Humas belum dipandang sebagai peserta yang integral dalam kegiatan promosi perusahaan (Jauhari, 2008).
III. HASIL PENGAMATAN
A. Perbandingan Budidaya
1. Kangkung (tinggi, diameter, jumlah cabang, dan jumlah daun)
Tabel 1. Hasil Pengamatan Tinggi Tanaman Kangkung
Nomor Sampel
|
Jumlah Daun Tanaman Minggu ke- (cm)
| |||
I
|
II
|
III
|
IV
| |
1
|
12
|
33
|
65
|
124
|
2
|
14
|
17
|
21
|
31
|
3
|
11
|
11
|
17
|
25
|
4
|
14
|
14
|
19,5
|
24,5
|
5
|
16
|
16
|
39
|
42
|
6
|
13
|
13
|
23
|
25
|
7
|
11
|
11
|
16
|
19,5
|
8
|
8
|
8
|
12
|
17
|
9
|
13
|
13
|
62
|
116
|
10
|
9
|
9
|
14
|
16
|
Total
|
121
|
145
|
288,5
|
440
|
Rata-rata
|
12,1
|
14,5
|
28,85
|
44
|
Sumber : Data Kelompok
Tabel 2. Hasil Pengamatan Diameter Batang Tanaman Kangkung
Nomor Sampel
|
Diameter Batang Tanaman Minggu ke- (cm)
| |||
I
|
II
|
III
|
IV
| |
1
|
0,3
|
0,5
|
0,7
|
1
|
2
|
0,2
|
0,4
|
0,5
|
0,6
|
3
|
0,1
|
0,2
|
0,4
|
0,4
|
4
|
0,1
|
0,3
|
0,5
|
0,7
|
5
|
0,3
|
0,5
|
0,9
|
0,9
|
6
|
0,2
|
0,4
|
0,5
|
0,6
|
7
|
0,1
|
0,2
|
0,4
|
0,4
|
8
|
0.3
|
0,5
|
0,7
|
1
|
9
|
0,2
|
0,3
|
0,5
|
0,7
|
10
|
0,2
|
0,4
|
0,7
|
1
|
Total
|
2
|
3,7
|
5,8
|
7,3
|
Rata-rata
|
0,2
|
0,37
|
0,58
|
0,73
|
Sumber : Data Kelompok
Tabel 3. Hasil Pengamatan Jumlah Cabang Tanaman Kangkung
Nomor Sampel
|
Jumlah Cabang Tanaman Minggu ke- (cm)
| |||
I
|
II
|
III
|
IV
| |
1
|
0
|
2
|
11
|
14
|
2
|
0
|
1
|
14
|
7
|
3
|
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
0
|
2
|
5
|
6
|
5
|
0
|
1
|
2
|
5
|
6
|
0
|
2
|
13
|
3
|
7
|
0
|
1
|
4
|
6
|
8
|
0
|
2
|
3
|
6
|
9
|
0
|
1
|
5
|
7
|
10
|
0
|
2
|
3
|
5
|
Total
|
0
|
15
|
60
|
62
|
Rata-rata
|
0
|
1,5
|
6
|
6,2
|
Sumber : Data Kelompok
Tabel 4. Hasil Pengamatan Jumlah Daun Tanaman Kangkung
Nomor Sampel
|
Jumlah Daun Tanaman Minggu ke- (cm)
| |||
I
|
II
|
III
|
IV
| |
1
|
9
|
23
|
39
|
47
|
2
|
9
|
20
|
31
|
50
|
3
|
9
|
23
|
34
|
46
|
4
|
8
|
19
|
38
|
50
|
5
|
9
|
25
|
40
|
51
|
6
|
8
|
24
|
35
|
46
|
7
|
4
|
10
|
28
|
42
|
8
|
4
|
10
|
26
|
41
|
9
|
7
|
20
|
39
|
51
|
10
|
8
|
27
|
43
|
58
|
Total
|
75
|
201
|
353
|
482
|
Rata-rata
|
7,5
|
20,1
|
35,3
|
48,2
|
Sumber : Data Kelompok
Tabel 5. Anova Tinggi Tanaman, Diameter Batang, Jumlah Cabang, dan Jumlah Daun Tanaman Kangkung
ANOVA: Tinggi Tanaman versus Perlakuan
| |||||
Source
|
DF
|
SS
|
MS
|
F
|
P
|
Perlakuan
|
2
|
421
|
211
|
1.37
|
0.268
|
Error
|
33
|
5073
|
154
| ||
Total
|
35
|
5494
| |||
S = 12.40 R-Sq = 7.67% R-Sq(adj) = 2.07%
| |||||
ANOVA: Diameter Batang versus Perlakuan
| |||||
Source
|
DF
|
SS
|
MS
|
F
|
P
|
Perlakuan
|
2
|
6.707
|
3.354
|
3.60
|
0.039
|
Error
|
33
|
30.771
|
0.932
| ||
Total
|
35
|
37.478
| |||
S = 0.9656 R-Sq = 17.90% R-Sq(adj) = 12.92%
| |||||
ANOVA: Jumlah Cabang versus Perlakuan
| |||||
Source
|
DF
|
SS
|
MS
|
F
|
P
|
Perlakuan
|
2
|
22.1
|
11.1
|
0.88
|
0.425
|
Error
|
33
|
415.8
|
12.6
| ||
Total
|
35
|
437.9
| |||
S = 3.550 R-Sq = 5.05% R-Sq(adj) = 0.00%
| |||||
ANOVA: Jumlah Daun versus Perlakuan
| |||||
Source
|
DF
|
SS
|
MS
|
F
|
P
|
Perlakuan
|
2
|
1042
|
521
|
1.29
|
0.288
|
Error
|
33
|
13311
|
403
| ||
Total
|
35
|
14353
| |||
S = 20.08 R-Sq = 7.26% R-Sq(adj) = 1.64%
| |||||
Sumber : Data Rekapan
2. Pemasaran Hasil Komoditi
a. Produksi
Tabel 6. Hasil Produksi Kangkung
Berat Kangkung
|
Jumlah Ikat
|
Harga/Ikat
|
Jumlah Pendapatan
| |
3 kg
|
5
|
Rp 1.000
|
Rp 5.000
|
Sumber: Log book
b. Lokasi Pemasaran
Lokasi pemasaran yang dipakai untuk memasarkan kangkung berada di daerah Tegalmulyo RT 04 RW IV, Nusukan, Solo dengan Ibu Mutmainah sebagai pembelinya. Pemasaran tidak dilakukan di warung-warung makan dikarenakan kondisi tanaman kangkung yang dipanen sudah tua sehingga cocok digunakan sebagai pakan ternak kelinci milik Ibu Mutmainah dan tidak cocok untuk dimakan.
c. Harga Jual
Tabel 7. Harga Jual Kangkung
Komoditas
|
Σ Berat total kangkung
|
Σ Kangkung terjual
|
Harga Jual
|
Nama Pembeli
|
Kangkung
|
3 kg
|
5 ikat
|
@ 1.000
|
Mutmainah
|
Sumber : Log Book
B. Sistem Pertanian Terpadu Di Lahan Pertanian Milik Bapak Suryono
1. Kondisi Umum
Deskripsi mengenai kondisi umum merupakan gambaran yang mewakili keadaan geografis dari suatu lahan. Data mengenai kondisi umum lahan yang digunakan dalam praktikum Sistem Pertanian Terpadu adalah sebagai berikut :
Tabel 8. Kondisi Umum Lahan Sistem Pertanian Terpadu
No.
|
Deskripsi
|
Keterangan
|
1
|
Kondisi Geografis
|
Lahan berada ditengah-tengah pemukiman masyarakat setempat, dekat dengan tempat penggilingan dan penjemuran padi. Di lahan tersebut selain terdapat lahan pertanian, di sebelah Selatan terdapat jalan, di sebelah Barat ada sungai Bengawan Solo, di sebelah Timur ada lahan dan peternakan dan di sebelah utara terdapat jalan.
|
2
|
Alamat Lokasi
|
Dukuh Gunung Wijil, Kelurahan Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar
|
3
|
Topografi
|
Secara mikro : topografi datar
Secara makro : topografi bergelombang
|
4
|
Luas Lahan
|
Luas lahan sekitar 2.600 m2 dengan pembagian lahan untuk :
a. Budidaya Kangkung
b. Budidaya Puyuh
c. Budidaya Lele dan Gurame
|
Sumber : Hasil wawancara
2. Komoditas
a. Lele
Lele merupakan salah satu komoditas jenis ikan yang dibudidayakan. Beberapa data mengenai komoditas lele adalah sebagai berikut:
Tabel 9. Komoditas Lele
No
|
Deskripsi
|
Keterangan
|
1
|
Jumlah
|
9.000 ekor
|
2
|
Lahan yang digunakan
|
6 kolam @8,75 m2
|
3
|
Cara Pemeliharaan
|
Sumber pakan dari belatung yang berasal dari kotoran puyuh, diberikan 2x sehari.
Diberi Tanaman Azolla di atas kolam yang juga dimanfaatkan sebagai pakan lele.
|
4
|
Cara panen
|
Panen setiap minggu, dalam 1 bulan panen 4 kali
|
5
|
Hasil Produksi
|
150 kg/minggu/kolam
|
6
|
Harga jual
|
Rp 10.000/kg
|
Sumber : Hasil wawancara
b. Gurame
Guarame merupakan salah satu komoditas jenis ikan yang dibudidayakan selain lele. Beberapa data mengenai komoditas gurame adalah sebagai berikut:
Tabel 10. Komoditas Gurame
No
|
Indikator
|
Keterangan
|
1
|
Jumlah
|
±2.800 ekor
|
2
|
Luas Lahan
|
6 kolam (30m2)
|
3
|
Cara Budidaya
|
1) Air kolam dari saluran pipa air sumur
2) Pakan didapatkan dari daun-daunan, seperti daun kangkung dan daun pepaya
|
4
|
Cara Panen
|
8 bulan sekali
|
5
|
Hasil Produksi
|
1440 Kg
|
6
|
Harga Jual
|
Rp 20.000/kg
|
Sumber : Hasil Wawancara
c. Puyuh
Komoditas selain ikan yang dibudidayakan salah satunya adalah komoditas puyuh. Beberapa data mengenai komoditas puyuh adalah sebagai berikut:
Tabel 11. Komoditas Puyuh
No
|
Deskripsi
|
Keterangan
|
1
|
Jumlah
|
20.000 ekor
|
2
|
Lahan yang digunakan
|
5 m × 25 m, 5 m × 17 m, dan 5 m × 17 m
|
3
|
Cara pemeliharaan
|
Burung puyuh diberi pakan dari pabrik/luar, vitamin, dan antibiotik. Kandang puyuh terdapat ventilasi dan di sekitar kandang diletakkan kapur sebagai perangkap bau.
|
4
|
Cara panen
|
Setiap hari burung puyuh menghasilkan telur sehingga dapat dipanen setiap hari.
|
5
|
Hasil produksi
|
16.000 butir telur/hari (80% dari jumlah puyuh)
|
6
|
Harga jual
|
Rp 165/butir
|
Sumber : Hasil wawancara
IV. PEMBAHASAN
A. Penerapan Konsep Sistem Pertanian Terpadu
Sistem pertanian terpadu merupakan pemanfaatan seluruh potensi energi yang terdapat pada lahan dengan berbagai jenis usahatani sehingga dapat menghasilkan hasil panen secara seimbang. Melalui pertanian terpadu akan terjadi pengikatan bahan organik di dalam tanah dan penyerapan karbon yang lebih rendah jika dibandingkan dengan pertanian konvensional yang memakai pupuk nitrogen dan sebagainya. Proses pemanfaatan produksi pertanian terpadu dalam suatu kawasan dapat terjadi secara efektif dan efisien, sehingga keberadaan sektor-sektor akan mengakibatkan kawasan memiliki ekosistem yang lengkap dan seluruh komponen produksi tidak akan menjadi limbah karena pasti akan dimanfaatkan oleh komponen lainnya, selain itu juga akan terjadi peningkatan hasil produksi dan penekanan biaya produksi sehingga efektivitas dan efisiensi produksi akan tercapai. Penerapan sistem pertanian terpadu dapat dilakukan dengan pengelolaan tanah secara terpadu, pengelolaan tanaman secara terpadu, pengelolaan ternak terpadu, pengelolaan air terpadu, pengelolaan unsur hara terpad, pengelolaan hama terpadu dan adanya pengelolaan pemasaran terpadu. Tujuh unsur dalam penerapan pertanian terpadu saling terkait yang satu dengan lainnya.
Beberapa penerapan Sistem Pertanian Terpadu (SPT) dilahan Bapak Suryon ialah penerapan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT) atau Integrated Crop Management (ICM) dengan melakukan budidaya tanaman organik dengan menggunakan pemupukan organik yang dihasilkan dari limbah kotoran ternak puyuh untuk pemupukan budidaya tanaman kangkung, yang pada akhirnya komoditas kangkung dapat dimanfaatkan sebagai pakan untuk lele. Hal tersebut memperlihatkan bahwa dengan pemakaian pupuk organik dalam budidaya tanaman organik yaitu limbah kotoran untuk tanaman kangkung bertujuan tidak sekedar untuk meningkatkan produktivas tanaman, namun juga bertujuan agar lingkungan tetap sehat serta juga bertujuan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, menjaga keseimbangan ekosistem, mempertahankan siklus hidrologi dan keragaman hayati makhluk hidup yang ada.
Penerapan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) dengan menggunakan tanaman repelant atau tanaman yang tidak disukai oleh hama yaitu seperti kenikir, serai, peterseli, kemangi, terong lenca dan sebagainya. Hama yang terdapat di lahan pertanian seperti ulat, belalang, nematoda dan lain-lain. PHT pada dasarnya adalah penerapan sistem bercocok tanam untuk menghasilkan tanaman yang sehat, kuat, berproduksi tinggi dan berkualitas tinggi. Penerapan pengelolaan tanah terpadu di lahan pertanian milik Bapak Suryono yaitu dengan pemberian perlakuan pada tanah tempat tanaman yang akan ditanam dengan tiga macam perlakuan yaitu pupuk alam yang berupa kotoran puyuh sebagai pupuk organik, pupuk urea sebagai pupuk anorganik dan tanah control yang tidak diberi pupuk. Penerapan pemupukan terpadu di lahan pertanian milik Bapak Suryono adalah dengan pemupukan tanaman organi dengan memanfaatkan sisa-sisa tanaman dan kotoran ternak puyuh serta air kolam ternak lele dan air sumur yang mengandung urea.
Pengelolaan air terpadu yang diterapkan di dalam lahan pertanian milik Bapak Suryono adalah pengairan dengan menggunakan air limbah dan air kolam yang mempunyai manfaat ganda sebagai air pengairan dan sebagai sumber pupuk (nutrisi) bagi tanaman. Sedangkan penerapan dalam pengelolaan ternak terpadu yaitu dengan mengelola ternak dan tanaman secara terpadu meliputi cara pemeliharaan, cara pemberian dan macam pakan yang diberikan pada ternak. Pengelolaan limbah peternakan terpadu merupakan salah satu alternatif yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efektifitas, efisiensi dan produktivitas agribisnis disertai meningkatnya daya dukung lingkungan. Pengolahan limbah peternakan sebagai bahan baku pupuk harus dilakukan sesuai dengan kaidah alamiah, yaitu melalui proses biokonversi.
Pemasaran atau marketing adalah semua kegiatan-kegiatan usaha yang diperlukan untuk mengakibatkan terjadinya pemindahan milik daripada barang-barang dan jasa dan untuk menyelenggarakan distribusi miliknya. Jadi pemasaran (marketing) berhubungan dengan usaha pemindahan barang-barang dan jasa dari produsen ke tangan konsumen. Pemasaran sendiri membutuhkan rantai pasar yang panjang. Perbedaan harga yang cukup besar dari setiap komoditi, terutama hasil pertanian, dari harga pokoknya, disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut: Besarnya biaya pemasaran, Panjangnya jalur distribusi yang setiap titik perantara merupakan titik pendukung biaya, Tingginya tingkat keuntungan setiap titik perantara. Oleh karena itu, perlu dikembangkan sistem pemasaran terpadu untuk menekan biaya dan keuntungan saluran pemasaran.
B. Perbandingan Budidaya
1. Perbandingan Budidaya Kangkung
Dalam praktikum sistem pertanian terpadu tanaman kangkung darat, selama melakukan praktikum serta pengamatan hingga panen dan memasarkan hasil panen. Terdapat Tiga jenis perlakuan penyiraman adalah P0, P1, dan P2. P0 adalah perlakuan penyiraman menggunakan air sumur. P1 menggunakan air kolam dan P2 menggunakan air limbah kandang. Perlakuan yang kelompok kami lakukan adalah P0 atau penyiraman dengan menggunakan air sumur.
Dari hasil pengamatan tinggi tanaman kangkung, tanaman kangkung mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap minggunya. Pengamatan rata-rata tinggi tanaman kangkung pada minggu pertama tingginya 12,1 cm, kemudian setelah minggu kedua tingginya semakin bertambah menjadi 14,5 cm, pada minggu ketiga tingginya bertambah menjadi 28.85 cm dan pada minggu keempat tingginya juga mengalami pertambahan menjadi 44 cm.
Dari hasil pengamatan diameter batang tanaman kangkung, tanaman kangkung mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap minggunya. Pengamatan rata-rata diameter batang tanaman kangkung pada minggu pertama sebesar 0,2 cm, kemudian setelah minggu kedua diameternya semakin bertambah menjadi 0,37 cm, pada minggu ketiga diameternya bertambah menjadi 0,58 cm dan pada minggu keempat diameternya juga mengalami pertambahan menjadi 0,73 cm.
Dari hasil pengamatan jumlah cabang tanaman kangkung, tanaman kangkung mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap minggunya. Pengamatan rata-rata jumlah cabang tanaman kangkung pada minggu pertama belum muncul cabang, kemudian setelah minggu kedua jumlah cabangnya sebanyak 1,5 cabang, pada minggu ketiga jumlah cabangnya bertambah menjadi sebanyak 6 cabang dan pada minggu keempat jumlah cabangnya juga mengalami pertambahan menjadi sebanyak 6,2 cabang.
Dari hasil pengamatan jumlah daun tanaman kangkung, tanaman kangkung mengalami pertumbuhan dan perkembangan setiap minggunya. Pengamatan rata-rata jumlah daun tanaman kangkung pada minggu pertama sebanyak 7,5 daun, kemudian setelah minggu kedua jumlah daunnya semakin bertambah menjadi sebanyak 20,1 daun, pada minggu ketiga jumlah daunnya bertambah menjadi sebanyak 35,3 daun dan pada minggu keempat jumlah daunnya juga mengalami pertambahan menjadi sebanyak 48,2 daun.
Dari data rekapan perhitungan anova tinggi tanaman kangkung terhadap perlakuan yang diberikan didapatkan angka P (tingkat signifikan) sebesar 0,268. Hal ini menunjukkan non signifikan karena 0,268>α (α=0,05). Hal ini berarti bahwa perlakuan penyiraman dengan menggunakan air sumur, air kolam, dan air limbah tidak berpengaruh nyata dengan tinggi tanaman. Hal ini mungkin terjadi karena saat pelaksanaan praktikum terutama saat awal penyiraman dan terkadang sering turun hujan. Sehingga bahan-bahan organik yang terkandung pada air kolam tersebut ikut terbawa oleh aliran air hujan yang menyebabkan tanaman tidak dapat menyerap unsur-unsur hara secara optimal. Namun dari hasil pengamatan dapat dilihat bahwa tinggi tanaman kangkung mengalami peningkatan pada setiap minggunya.
Hasil perhitungan anova diameter kangkung terhadap ketiga perlakuan tersebut menunjukkan hasil yang signifikan karena diperoleh angka P yang lebih kecil dari 0,05 yaitu sebesar 0,039. Hal ini menunjukkan bahwa dari perlakuan penyiraman yang dilakukan terhadap tanaman kangkung berpengaruh nyata terhadap diameter tanaman kangkung. Dari hasil pengukuran diameter batang kangkung diketahui bahwa diameter batang kangkung setiap minggunya mengalami penambahan. Hal ini menandakan bahwa tanaman kangkung tetap tumbuh dan berkembang dengan baik. Pertumbuhan yang terjadi juga seragam karena di lihat pada grafik kenaikan tiap minggunya hampir sama.
Dari perhitungan anova jumlah cabang kangkung terhadap perlakuan yang diberikan juga menunjukkan hasil yang non signifikan. Karena P yang didapatkan lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar 0,425. Hal ini berarti bahwa ketiga perlakuan yang diberikan pada tanaman kangkung tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang pada tanaman kangkung tersebut. Dari ketiga perlakuan yang diterapkan dalam praktikum kali ini memiliki jumlah cabang yang tidak berbeda jauh. Hal ini terjadi mungkin karena hal yang sama yaitu kurang optimalnya penyerapan bahan organik yang terkandung dalam air yang digunakan untuk menyiram akibat sering turunnya hujan. Meskipun perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah cabang kangkung, tapi dari pengamatan yang dilakukan diketahui bahwa jumlah kangklung selalu bertambah setiap minggunya.
Dari perhitungan anova jumlah cabang kangkung terhadap perlakuan yang diberikan juga menunjukkan hasil yang non signifikan. Karena P sebesar 0.288 dimana lebih tinggi dari α 0,05 yang menunjukkan non signifikan, sehingga tidak ada beda nyata yang terjadi pada jumlah cabang kangkung. Semua kankung tumbuh karena mengalami masa pertumbuhan sehingga tidak terlalu berpengaruh yang sangat nyata adanya penyiraman.
Pada bedengan dengan perlakuan P1 (penyiraman dengan air kolam) menghasilkan kangkung yang lebih kecil bila dibandingkan dengan bedengan yang diberi perlakuan P2 (penyiraman dengan air kolam). Hal ini terjadi karena konsentrasi atau kandungan unsur hara yang dimiliki oleh air kolam tersebut sangat tinggi bila dibandingkan dengan kandungan bahan organik dalam air kolam. Perlakuan penyiraman dengan air sumur memiliki hasil yang paling kecil karena kurangnya unsur hara yang terkandung dalam air sumur tersebut. Sehingga kurang membantu dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman kangkung tersebut.
Banyaknya gulma ataupun hama yang menyerang tanaman kangkung mengakibatkan hasil panen tidak terlalu maksimal. Banyak daun berlubang dan berwarna kuning yang terjadi pada sempel maupun non sempel. Daun kuning bisa diakibatkan dari penyiraman air kolam yang terkena pada daun. Menurut teori penyiraman harus dilakukan dengan cara tidak dikenakan pada daun atau langsung pada tanah di bedengan, karena yang diberika nutrisi dari penyiraman itu adalah tanah di bedengannya. Kemungkinan air kolam lele mengandung patoghen yang kemudian mengumpul di daun dan menyebankan daun menjadi kuning bercak coklat.
2. Pemasaran Hasil Komoditi
Pemasaran hasil usaha tani yang dikelola oleh pemilik usaha yaitu dengan cara kepercayaan dan membangun jaringan dari mulut ke mulut, sehingga lebih cepat penyampaiannya ke khalayak luas. Sebagai gambarannya, bila seseorang membeli dari tempat beliau dan merasa puas, maka pasti orang tersebut akan menceritakan ke orang lain, bahwa dia mendapatkan barang tersebut dari tempat beliau. Hal inilah yang digunakan beliau dalam memasarkan hasil produksi pertaniannya. Sehingga usaha pertaniannya dapat berlanjut karena jaringan pemasaran yang dibangun.
Pemanenan kangkung dilakukan pada hari rabu tanggal 9 Mei 2012 pukul 16.30 WIB dengan cara mencabut kangkung sampai dengan akarnya. Kemudian kangkung yang telah dipanen tadi dilakukan pencucian akar agar bersih sebelum ditimbang. Penimbangan dilakukan dua kali yaitu satu untuk seluruh sempel dan yang satu untuk kangkung non sempel. Setelah ditimbang dilakukan penyortiran dengan membuang daun kangkung yang memiliki kualitas buruk. Kangkung kemudian di ikat menjadi beberapa bagian agar mempermudah dalam pemasaran. Pemasaran hasil panen tersebut dilakukan di Tegalmulyo RT 04, RW 10, Nusukan, Solo oleh Mutmainah, S.Pd. jumlah seluruh produksi kangkung adalah 3,25 kg (3250 gram) per petak lahan dengan harga jual seluruh kangkung Rp 5.000,-
C. Sistem Pertanian Terpadu di Lahan Pertanian Milik Bapak Suryono
Usahatani dengan Sistem Pertanian Terpadu yang digunakan untuk praktikum kali ini bertempat di Dukuh Gunung Wijil, Kelurahan Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Lahan berada ditengah-tengah pemukiman masyarakat setempat, dekat dengan tempat penggilingan dan penjemuran padi. Di lahan tersebut selain terdapat lahan pertanian, terdapat kolam ikan, kandang puyuh, dan 3 buah sumur. Lahan ini merupakan lahan dengan tanah yang datar.
Pemilik lahan ini bernama bapak Surono dengan status kepemilikan milik sendiri dan diusahakan sendiri. Luas lahan seluruhnya sekitar 2.600 m2 dengan pembagian lahan untuk kangkung seluas 8 m x 25 m, untuk beternak puyuh 10 m x 17 m dan 25 m x 5 m, dan untuk memelihara lele dan gurame 2,65 m x 4 m dan 3,75 m x 4 m (4 kolam). Awal rintis usahatani milik Bapak Suryono ini dimulai pada bulan Juni tahun 2009, dengan komoditas puyuh, kemudian lele, kangkung, gurame, yang digunakan untuk praktikum Sistem Pertanian Terpadu ini. Menurut Bapak Suryono, seorang pelaku agribisnis harus memiliki modal utama sebagai pedoman dalam menjalankan usahataninya yaitu modal jaringan dan modal kepercayaan. Dengan kedua modal tersebut diharapkan kesuksesan dari usahatani yang dijalankan dapat terus berkembang dan meluas. Seperti pada praktikum kali ini, Bapak Suryono bersedia lahannya digunakan untuk praktikum secara gratis, karena modal jaringan dapat dilakukan melalui mahasiswa untuk menginformasikan tentang usahatani yang dijalankan oleh beliau. Komoditas yang pernah dibudidayakan di lahan ini bermacam-macam yaitu dari pertaniannya seperti kangkung, pepaya, ketela pohon, dan lompong/lumbu (talas), dari peternakannya seperti puyuh, dan perikanannya adalah lele dan gurame.
a. Kangkung
Budidaya kangkung dilakukan di atas lahan seluas 8 m x 25 m. Hasil panen kangkung kurang lebih 5 kg/m2, tetapi hasil panen ini tidak untuk dijual tetapi hanya sebagai persediaan pakan untuk gurame dan lele. Pemeliharaan kangkung ini cukup sederhana yaitu pemupukan hanya menggunakan kotoran dari puyuh sebagai pupuk organik sebanyak 3 kg per bedeng kangkung. Penyiraman menggunakan air sumur atau air kolam lele dan gurame yang lokasinya tidak jauh dari lahan kangkung. Pengendalian hama untuk saat ini tidak ada karena belum ada serangan hama yang melampaui ambang batas ekonomi, tetapi semisal menggunakan pestisida kimia maka akan terjadi residu bahan agrokimia yang dapat mematikan usaha perikanan lele dan gurame, sehingga diharapkan tidak akan terjadi serangan hama penyakit secara besar-besaran dan bila terpaksa harus dilakukan pengendalian maka solusinya adalah dilakukan pengendalian dengan pupuk hayati atau pupuk nabati. Dahulu kangkung ini pernah terserang penyakit Sitospora namun hanya didiamkan karena akibat dari serangan tidak signifikan dan dianggap sebagai keseimbangan ekosistem.
b. Gurame
Selain beternak ikan lele, Bapak Suryono juga melakukan ternak ikan gurame sebanyak 6 petak kolam dengan ukuran 5 x 6 meter dan dengan kedalaman 1 meter serta dengan jumlah bibit 300 sampai 400 bibit ikan gurame yang dibudidayakan. Ikan gurame yang dibudidayakan tersebut diberi makan daun kangkung. Tanaman kangkung tersebut ditanam di sekitar kolam. Tanaman kangkung yang ditanam di sekitar kolam disiram dengan menggunakan air kolam ikan lele yang mengandung unsur hara dari lumut yaitu dengan cara membuka saluran air yang terdapat pada kolam ikan.
Pada ternak ikan gurame, waktu panen bisa dilakukan 8 sampai 10 bulan. Harga jual ikan gurame sebesar Rp 20.000,- per kg dan pada saat harga turun, harga jual ikan gurame menjadi Rp 18.000,-. Pada waktu panen biasa dihasilkan bibit 1800 ekor dengan berat 8 ons maka seluruhnya seberat 1440 kg dalam 8 bulan, jika dihitung perbulan ada 180 kg sedangkan harga per kg Rp 20.000 maka pendapatan bersih Rp 3.600.000,- per bulan. Sasarannya ada 10 petak yang bila dihitung perbulan bersih Rp 6.000.000,-.
c. Lele
Budidaya perikanan lele dilakukan dalam 4 kolam yang terletak di samping lahan kangkung dengan luas 2,65 m x 4 m dan 3,75 m x 4 m. Lele yang dibudidayakan adalah jenis sangkuriang (ukuran tubuh lebih panjang) dan dumbo (kanibal) dengan nilai jual yang sama yaitu Rp 10.000/kg dan per kg berisi sekitar 6-12 ekor. Jumlah lele yang dipelihara sebanyak 9.000 ekor. Ada satu jenis lele lagi yang belum dibudidayakan karena sangat langka yaitu lele phyton. Usaha pembesaran lele ini diawali dengan pembelian bibit lele seharga Rp60.000 – Rp 65.000. Langkah pembesaran lele selanjutnya adalah pengisian kolam dengan air sumur yang dibiarkan selama 3 sampai 4 hari hingga terlihat kehijauan (sebagai tanda terdapatnya plankton, plankton inilah sebagai pakan bibit lele) kemudian bibit dapat masuk. Setelah dewasa, pakan yang diberikan dari panen kangkung dan sedikit pakan dari toko sebanyak 5 kg pakan seharga Rp 1.000/kg. Siklus hidup lele adalah 2 sampai 2,5 bulan, setelah itu lele dapat segera dipanen. 80% sukses panen, karena kendalanya adalah penyakit lele yaitu moncong putih (bakteri) yang penanggulangannya dengan obat (catfish). Pemanenan dilakukan setiap minggu biasanya pada hari Jumat, dengan hasil produksi sebanyak 150 kg/minggu/kolam. Harga lele Rp 10.000/kg sehingga diperoleh pendapatan sebesar Rp 1.500.000 per minggu/kolam. Pendapatan per bulannya (4 minggu) sekitar Rp 24.000.000 dari 4 kolam. Untuk usaha pembibitan lele sendiri baru dimulai dengan 17 pasang indukan sehingga belum bisa diperkirakan hasilnya.
Budidaya burung puyuh dilakukan di dalam bangunan kandang yang menempati lahan seluas 10 m x 17 m dan 25 m x 5 m. Jumlah ternak puyuh sebanyak 20.000 ekor. Pengeluaran produksi ternak berupa pakan dari pabrik (luar), vitamin, antibiotik, dan tenaga kerja. Pemeliharaan burung puyuh cukup mudah yaitu hanya diberi pakan dari pabrik/luar, vitamin, dan antibiotik. Kandang puyuh terdapat ventilasi dan di sekitar kandang diletakkan kapur sebagai perangkap bau. Pemanenan dapat dilakukan setiap hari karena burung puyuh dapat menghasilkan telur setiap hari. Hasil produksi puyuh setiap hari menghasilkan sejumlah 20.000 butir telur puyuh dengan harga jual Rp 35/butir. Penghasilan diperkirakan mencapai Rp 700.000/hari dari hasil penjualan telur puyuh tersebut.
Flu burung pernah menyerang saat wabah virus flu burung sedang merajalela. Dari sentra usahatani yang lainnya, usahatani milik bapak Surono ini terkena dampak virus flu burung paling terakhir mengakibatkan produksi terus menurun. Virus flu burung bisa menyerang akibat keteledoran pegawai yaitu pintu kandang dibuka (seharusnya tetap tertutup) dan virus menginfeksi ternak. Langkah setelah pasca serangan virus flu burung tersebut, kandang dibersihkan dengan minyak tanah, kemudian diberi antiseptik dan dioven, setelah 15 hari pembersihan dan penyeterilan barulah usaha mulai dibuka kembali. Kandang dibuat sesuai dengan syarat kandang yang baik yaitu adanya ventilasi yang baik, diberi perangkap bau (gas amoniak yang menguap dari kotoran) dengan kapur yang sifatnya higroskopis. Kotoran dari burung puyuh ini dijadikan sebagai pupuk organik pada komoditas kangkung. Di sekitar kandang banyak sekali lalat hijau yang berterbangan. Lalat hijau ini bila bertelur pada kotoran puyuh maka kotoran akan membusuk dan akan muncul belatung yang memiliki kandungan protein sekitar 80% sampai 90%, sehingga baik sekali sebagai pakan ternak dan perikanan. Kendala yang sering dialami adalah dimana harga pakan sedang naik tetapi harga telur turun, sehingga biaya lebih besar daripada pendapatan.
Lahan kosong di lokasi budidaya digunakan untuk menanam talas, pepaya dan kacang tanah, yang digunakan sebagai pakan lele, gurame dan puyuh. Tanaman tersebut tidak dijual, namun digunakan oleh pemilik sendiri. Talas, pepaya dan kacang tanah disiram menggunakan air sisa pengurasan kolam ikan lele dan guraame dan pemupukan menggunakan kotoran burung puyuh.
Kendala-kendala yang dihadapi dalam keseluruhan budidaya ini adalah keadaan cuaca yang tidak menentu seperti saat sekarang ini. Cuaca buruk mengakibatkan burung puyuh mengalami stress sehingga sulit untuk bertelur, hal ini dapat diatasi dengan pemberian vaksin dan vitamin secara rutin agar burung puyuh tidak mudah terserang penyakit. Cuaca buruk juga mengakibatkan ikan lele dan gurame banyak yang terserang penyakit bahkan mati. Pemasaran hasil panen dilakukan dengan bekerja sama dengan para pedagang, jadi apabila telah dilakukan panen maka pemilik menghubungi sang pedagang. Kemudian pedagang tersebut akan datang membeli hasil panen tersebut. Dengan menggunakan cara seperti ini pemasaran akan lebih efektif dan efisien, karena kedua belah pihak dapat saling percaya dan menguntungkan.
Siklus hara yang terjadi dilahan yang digunakan untuk praktikum ini adalah Siklus hara siklik. Hal ini dikarenakan output dari dari komoditas satu digunakan untuk input komoditas yang lain. Pada burung puyuh, kotoran dari burung puyuh digunakan sebagai pakan untuk lele dengan bantuan lalat sehingga dikotoran tersebut akan terdapat belatung yang akan digunakan sebagai pakan lele. Air kolam lele digunakan sebagai pengairan untuk budidaya kangkung sehingga lahan kangkung mendapatkan pupuk organik dari air kolam lele. Hasil dari budidaya kangkung dikonsumsi sendiri oleh pemilik lahan dan ada juga yang digunakan sebagai pakan gurame sehingga menghemat pembelian pakan untuk gurame. Sedangkan, air kolam gurame tersebut dimanfaatkan sebagai pengairan untuk budidaya talas, pepaya dan kacang tanah. Hasil panen dari budidaya tanaman tersebut digunakan sebagai pakan lele, gurame dan puyuh. Berikut ini adalah diagram alur siklus hara dari lahan milik Bapak Suryono.
Kotoran burung puyuh dapat dijadikan makanan untuk lele yaitu dalam bentuk pelet, ternak lele menghasilkan limbah yaitu limbah lele. Limbah lele digunakan untuk pupuk pada tanaman, yaitu misalnya tanaman kangkung atau sawi yang kemudian tanaman hijau tersebut digunakan untuk makanan burung puyuh (untuk menambah gizi agar hewan sehat).
V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum Sistem Pertanian Terpadu ini adalah:
1. Perlakuan penyiraman menggunakan air sumur, air kolam, dan air kotoran puyuh yang dilakukan pada budidaya tanaman kangkung tidak berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter, dan jumlah cabang tanaman kangkung.
2. Luas lahan yang digunakan untuk praktikum Sistem Pertanian Terpadu seluas
2600 m2 yang terdiri dari 90 m2 untuk budidaya rumput gajah, 52,5 m2 untuk kolam lele, 30 m2 untuk kolam gurame, 295 m2 untuk kandang puyuh, dan sisanya merupakan lahan kosong.
3. Lahan yang digunakan secara makro bertopografi bergelombang dan secara mikro topografinya merupakan tanah datar.
4. Konsep pertanian terpadu yang digunakan pada lokasi praktikum adalah memadukan antara ternak dengan tanaman.
5. Budidaya yang terdapat dilokasi praktikum adalah budidaya burung puyuh, budidaya ternak lele, budidaya ikan gurame, budidaya tanaman kangkung, dan budidaya talas, pepaya dan kacang tanah di lahan yang kosong.
6. Pendapatan bersih per bulan yang diperoleh dari budidaya burung puyuh adalah Rp 26.000.000,00.
7. Pendapatan bersih per bulan yang diperoleh dari budidaya ternak lele adalah Rp 24.000.000,00.
8. Pendapatan bersih yang diperoleh dari budidaya gurame adalah Rp 6.000.000,00/panen.
9. Kendala yang dihadapi dalam keseluruhan budidaya ini adalah faktor cuaca yang tidak menentu yang mengakibatkan burung puyuh stres dan ikan lele dan gurame banyak yang terserang penyakit.
10. Pemasaran hasil panen yang dilakukan adalah pemilik menghubungi pedagang untuk membeli hasil panen dari lahan tersebut.
11. Siklus hara yang terjadi dilahan praktikum adalah siklus hara siklik karena output dari komoditas satu digunakan sebagai input untuk komoditas yang lain.
B. Saran
Saran untuk praktikum Sistem Pertanian Terpadu ini adalah:
1. Memanfaatkan lahan kosong yang ada dilahan dengan tanaman yang tahunan ataupun dengan beternak sehingga dapat meningkatkan pendapatan dalam usaha tani.
DAFTAR PUSTAKA
Anonima. 2001. Kangkung Darat. http://jambi.litbang.deptan.go.id/ind/index.php? option=com.content&view=article&id=68:budidaya-kangkung-darat-semi-cat organik=41:brosurleaflet&Itemid=49. Diakses pada tanggal 10 Mei 2012 pukul 19.36 WIB.
Budiastuti, S. M. 2008. Sumberdaya Air dan Pemanfaatannya. J.Agrosains. Vol II (2) : 59–63.
Dirdjopranoto, W. 1991. Pengelolaan Ternak secara Terpadu Balai Penelitian Ternak. Ciawi. Bogor. Unpublished.
Dirjen Peternakan, 1997. Buku Statistik Peternakan, Direktorat Jendral Peternakan Jakarta.
Ernawati. 1999. Pengelolaan Tanaman Terpadu . Gramedia. Jakarta.
Harjadi, S.S. 2002. Pengantar Agronomi Gramedia. Jakarta. 113 hal.
Jauhari, Agung. 2008. Pemasaran Produk Pertanian. www.agromaret.com. Diakses pada tanggal 10 Mei 2012 pukul 19.19 WIB.
Kuntoro. 1995. Pembangunan Pertanian Berkelanjutan melalui Kemitraan Usaha. Jurnal Litbang Pertanian. 26 (4): 123-130.
Maulidia. 2010. Adaptasi Varietas Jagung pada Organisme Pengganggu Tanaman. Jurnal Penelitian Pangan. Vol. II (XIX): 35. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.
Makarim. 2005. Vegetable Production In The Tropics. University Of Nigeria Nsukka. Nigeria.
Nursyamsi, D. 2002. Pengaruh Kualitas Lahan Terhadap Produktivitas Jagung pada Tanah Vulkanik dan Batuan Sedimen di Daerah Bogor. Jurnal Agrivet IV.
Patola, E. 2008. Analisis Pengaruh Dosis Pupuk Urea Terhadap Produktivitas Tanaman. Jurnal Inovasi Pertanian Vol. 7, No. 1, 2008 (51 - 65).
Prabowo. 2008. Resistensi Tanaman Terhadap Hama. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sarja, M. 1979. Kangkung Darat. Majalah Trubus. Jakarta.
Sutanto, R. 2006. Penerapan Pertanian Organik. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Trubus. 1992. Pemasaran Hasil Pertanian yang Efisien. No. 275. Th XXIII. Hal 4-5 Jakarta.
Vasal. 2010. Untung Cepat dari Kangkung Darat. Http://www.agrina-online.com. Diakses pada tanggal 24 Mei 2012 pukul 19.16 WIB.
Warsoko. 2007. Pencegahan Limpasan Hara. UNS. Surakarta.
Tag :
Sistem Pertanian Terpadu,
